Wednesday, March 6, 2013

Kehidupan Masa Prasejarah dan Masa Sejarah



Nama : Herayanti
Kelas  : X Akslerasi
Tugas Sejarah
Soal
1.    Kehidupan masa prasejarah dengan hasil kebudayaannya !
2.    Bandingkan kehidupan manusia masa berburu, bercocok tanam dan perundagian !
3.    Identifikasi jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia dengan manusia purba dari luar negeri !

Jawaban :

1.    Kehidupan masa prasejarah dengan hasil kebudayaannya !
Jawab :
1.FOOD GATHERING (Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan)
    Ciri zaman ini adalah :
• Mata pencaharian berburu dan mengumpulkan makanan
• Nomaden, yaitu hidup berpindah-pindah dan belum menetap
• Tempat tinggalnya di gua-gua
• Alat-alat yang digunakan terbuat dari batu kali yang masih kasar, tulang dan tanduk         rusa
• Zaman ini hampir bersamaan dengan zaman batu tua (Palaeolithikum) dan zaman batu tengah (Mesolithikum).


2. FOOD PRODUCING (Masa Bercocok Tanam)
Ciri zaman ini adalah :
• Telah mulai menetap
• Pandai membuat rumah sebagi tempat tinggal
• Cara menghasilkan makanan dengan bercocok tanam atau berhuma
• Mulai terbentuk kelompok-kelompok masyarakat
• Alat-alat terbuat dari kayu, tanduk, tulang, bambu , tanah liat dan batu
• Alat-alatnya sudah diupam/diasah
Zaman bercocok tanam ini bersamaan dengan zaman Neolithikum (zaman batu muda) dan zaman Megalithikum (zaman batu besar).

3.ZAMAN PERUNDAGIAN
Ciri zaman ini adalah :
• Manusia telah pandai membuat alat-alat dari logam dengan keterampilan dan keahlian khusus.
• Teknik pembuatan benda dari logam disebut a cire perdue yaitu, dibuat model cetakannya dulu dari lilin yang ditutup dengan tanah liat kemudian dipanaskan sehingga lilinya mencair, setelah itu dituangkan logamnya.
• Tingkat perekonomian masyarakat telah mencapai kemakmuran.
• Sudah mengenal bersawah.
• Alat-alat yang dihasilkan : kapak corong, nekara, pisau, tajak dan alat pertanian dari logam.
• Telah mencapai taraf perkembangan sosial ekonomi yang mantap.


Pembabakan Zaman Prasejarah

Arkaezoikum
Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak terdapat kehidupan, disebut juga masa tanpa kehidupan.
Paleozoikum
Paleozoikum atau sering juga disebut sebagai zaman primer atau zaman hidup tua berlangsung selama 340 juta tahun. Mahluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikroorganisme, ikan, amphibi, reptil, dan binatang yang tidak bertulang punggung.
Mesozoikum
     Mesozoikum atau disebut juga sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung selama kira-kira 140 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu. Pada zaman pertengahan ini reptil besar berkembang dan menyebar ke seluruh dunia sehingga pada zaman ini sering juga disebut sebagai zaman reptil.
Neozoikum
Neozoikum atau zaman kehidupan baru, dibagi menjadi dua zaman, yaitu zaman tersier dan zaman kuartier. Zaman tersier berlangsung sekitar 60 juta tahun dan ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui.
Zaman kuartier ditandai dengan munculnya manusia, sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman kuartier kemudian dibagi lagi menjadi dua zaman yaitu zaman Pleitosen dan zaman Holosin.
Zaman leitosen ditandai dengan adanya manusia purba. Zaman pleitosen berakhir 10.000 tahun sebelum masehi dan kemudian diikuti oleh datangnya zaman holosin yang berlangsung hingga sekarang ini.

Hasil Budaya Kehidupan Awal Manusia Di Indonesia

1.  Zaman Batu
Zaman batu menunjuk pada suatu periode di mana alat-alat kehidupan manusia terbuat dari batu, meskipun ada juga alat-alat tertentu yang terbuat dari kayu dan tulang. Tetapi, pada zaman ini secara dominan alat-alat yang digunakan terbuat dari batu.

Zaman ini terbagi menjadi 4 zaman yaitu :
1.    Palaeolithikum (Zaman Batu Tua)
      Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya, periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo Erectus.
Alat-alat dari tulang dan Flakes termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kegunaan alat-alat ini umumnya untuk : berburu, menangkap ikan, ubi dan buah-buahan.

Contoh alat-alat tersebut adalah :
•    Kapak Genggam, banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut   "Chopper" (alat penetak/pemotong)
•    Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa : alat penusuk (belati), ujung tombak bergerigi
•    Flakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan.
Alat-alat dari tulang dan Flakes, termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk : berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan. Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan Pacitan dan  Ngandong.
Manusia pendukung kebudayaan dari :
• Pacitan : Pithecanthropus dan
• Ngandong : Homo Wajakensis dan Homo soloensis.

2.    Mesolithikum (Zaman Batu Tengah)
Rentang waktunya juga tidak jelas diperkirakan 10.000 tahun yang lalu. Wujud dan ciri peninggalannya berupa benda-benda terbuat dari tulang, kerang, dan tanduk, serta lukisan pada dinding batu dan gua yang banyak terdapat pada Indonesia Timur        (gambar 3.2 ).
Manusia zaman ini sudah mulai bercocok tanam dan memelihara ternak. Mereka hidup berkelompok, menggunkan panah untuk berburu dan membuat manik-manik serta gerabah. Selain itu mereka juga membuat lukisan pada dinding gua-gua berupa bentuk tangan, kaki, serta binatang seperti kadal ( gambar 3.2 ), kura-kura, burung, dan benda-benda langit berupa matahari, bulan, serta perahu.

Ciri zaman Mesolithikum :
•    Alat-alat pada zaman ini hampir sama dengan zaman Palaeolithikum.
•    Ditemukannya bukit-bukit kerang dipinggir pantai yang disebut "kjoken modinger" (sampah dapur) Kjoken = dapur, moding = sampah)
Alat-alat zaman Mesolithikum :
•    Kapak genggam (peble)
•    Kapak pendek (hache Courte)
•    Pipisan (batu-batu penggiling)
•    Kapak-kapak tersebut terbuat dari batu kali yang dibelah
Alat-alat di atas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Flores. Alat-alat Kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua-gua yang disebut "Abris Sous Roche”.
Adapun alat-alat tersebut adalah :
•    Flaces (alat serpih) , yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu dan berguna untuk mengupas makanan.
•    Ujung mata panah,
•    batu penggilingan (pipisan),
•    kapak,
•    alat-alat dari tulang dan  tanduk rusa,
Alat-alat ini ditemukan  di gua lawa Sampung Jawa Timur (Istilahnya : Sampung Bone Culture = kebudayaan Sampung terbuat dari Tulang).
   
Tiga bagian penting Kebudayaan Mesolithikum,yaitu :
•    Peble-Culture (alat kebudayaan Kapak genggam) didapatkan di Kjokken Modinger
•    Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang)
•    Flakes Culture (kebudayaan alat serpih) didapatkan di Abris sous Roche
Manusia Pendukung Kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua –Melanosoid

3.    Neolithikum (Zaman Batu Muda)
Diperkirakan rentang waktunya mulai dari 2500 S.M – 1000 S.M.
Peninggalan zaman ini di Indonesia diperkirakan banyak diperngaruhi oleh imigran dari Asia Tenggara berupa pengetahuan tentang kelautan, pertanian, dan perternakan berupa Kerbau, Babi, dan Anjing.
Alat-alat berupa gerabah, alat pembuat pakaian kulit kayu, tenun, tekhnik pembentukkan kayu dan batu dalam bentuk mata panah, lumpang, beliung
( gambar 3.3 ), hiasan kerang, gigi binatang, dan manik-manik.
Seiring dengan berkembangnya keterampilan dan kemampuan bercocok tanam yang dibantu oleh kerbau untuk membajak tanah, kerbau juga dijadikan sebagai binatang simbolik tentang kekuatan dan kekuasaan.
Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang sudah dihaluskan.
Contoh alat tersebut :
•   Kapak Persegi, misalnya : Beliung, Pacul dan Torah untuk mengerjakan kayu. Ditemukan di Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan
•   Kapak Bahu,  sama seperti kapak persegi ,hanya di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Hanya di temukan di Minahasa
•   Kapak Lonjong, banyak ditemukan di Irian, Seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa dan Serawak
•   Perhiasan ( gelang dan kalung dari batu indah), ditemukan di jAwa
•   Pakaian (dari kulit kayu)
•   Tembikar (periuk belanga), ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Melolo(Sumba)
Manusia pendukung Kebudayaan Neolithikum adalah bangsa Austronesia (Austria) dan Austro-Asia (Khmer – Indochina)

4.     Megalithikum (Zaman Batu Besar )
Pada zaman ini peninggalan yang menonjol adalah bentuk-bentuk menhir atau tugu peringatan, tempat duduk dari batu, altar, bangunan berundag, peti kubur atau sarkopagus, bentuk-bentuk manusia, binatang yang dipahat pada batu-batu dengan ukuran besar ( gambar 3.4).
Peninggalan ini banyak terdapat di Sulawesi Tengah. bangunan berundak memiliki hubungan kepercayaan kepada leluhur dan kepada yang suci, bahwa bagian yang lebih tinggi adalah tempat suci yaitu gunung.
Oleh sebab itu bangunan suci, tempat pemujaan leluhur banyak dibangun pada tempat yang tinggi. Penerapan konsep ini sampai saat ini digunakan oleh masyarakat Hindu Dharma di Bali dalam membuat tempat tinggal terutama tempat suci pura.


Hasil kebudayaan zaman Megalithikum adalah sebagai berikut :
•   Menhir , adalah tugu batu yang didirikan sebagai tempat pemujaan untuk memperingati arwah nenek moyang
•   Dolmen, adalah meja batu, merupakan tempat sesaji dan pemujaan kepada roh nenek moyang
•   Sarchopagus atau keranda, bentuknya seperti lesung yang mempunyai tutup
•   Kubur batu/peti mati yang terbuat dari batu besar yang masing-masing papan batunya lepas satu sama lain
•    Punden berundak-undak, bangunan tempat pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat.


1.   Zaman Logam
Pada zaman logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari Logam disamping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya.
Teknik pembuatan alat logam ada dua macam yaitu dengan cetakkan batu yang disebut Bivalve dan dengan cetakkan tanah liat dan lilin yang disebut Acire Perdue.
Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan.

Zaman logam dibagi atas:

1.    Zaman Tembaga
Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara ( termasuk Indonesia ) tidak dikenal istilah zaman tembaga.

2. Zaman Perunggu
Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3:10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.
Hasil kebudayaan Perunggu yang ditemukan di Indonesia adalah:
·       Kapak Corong ( Kapak perunggu ), banyak ditemukan di Sumatera Selatan, jawa, Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, dan Irian. Kegunaannya sebagai alat perkakas
·       Nekara Perunggu ( Moko ), berbentuk seperti dandang. Banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, Roti, Leti, Selayar, dan Kepulauan Kei. Kegunaannya untuk acara keagamaan dan maskawin
·       Bejana Perunggu, bentuknya mirip gitar Spanyol tetapi tanpa tangkai. Hanya ditemukan di Madura dan Sumatera
·       Arca-arca Perunggu, banyak ditemukan di Bankinang ( Riau ), Lumajang ( Jatim ), dan Bogor ( Jawa Barat ). Perhiasan: Gelang, anting-anting, kalung, dan cincin.

2.    Zaman Besi
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu, sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500°C.
Alat-alat yang ditemukan adalah :
·       Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu
·       Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan
·       Mata Pisau
·       Mata Pedang
·       Cangkul, Dll.

2.    Bandingkan kehidupan masa berburu, becocok tanam dan perundagian !
Jawab :
Kehidupan manusia purba pada masa berburu yakni mereka hidup secara berpindah-pindah (nomaden). Oleh karena itu, masih sangat menggantungkan hidupnya pada alam. Pada masa bercocok tanam masyarakat pada masa ini sudah mampu untuk mengolah makanan sendiri artinya masyarakat pada zaman itu sudah tinggal menetap pada suatu tempat. Dan pada masa perundagian manusia telah pandai membuat alat-alat dari logam dengan keterampilan dan keahlian khusus.

Pembabakan zaman pra aksara berdasarkan ciri kehidupan mayarakat zaman praaksara di Indonesia berdasarkan ciri kehidupan masyarakat, dibagi dalam empat babak, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.

1.    Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana
Pada masa ini, kehidupan manusia hanya terpusat pada upaya mempertahankan diri di tengah-tengah alam yang penuh tantangan, dengan kemampuannya yang masih sangat terbatas. Kegiatan pokoknya adalah berburu dan mengumpulkan makanan, dengan peralatan dari batu, kayu, dan tulang. Kehidupan manusia masih sangat tergantung pada alam lingkungan sekitarnya.

1)   Keadaan lingkungan
Kepulauan Indonesia terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Ada pengaruh iklim dan pengaruh penyebaran hewan, manusia, dan kebudayaan, sebagai akibat pernah bergabung- nya Indonesia dengan kedua benua tersebut. Tepi pantai, sungai, danau, atau tempat-tempat yang banyak air dan bahan makanan merupakan tempat tinggal manusia purba. Mereka mendapatkan makanan secara langsung dari alam, tanpa melalui proses, baik dalam mengumpulkan sampai pada cara makan.

2) Keberadaan Manusia
Penelitian khusus tentang fosil manusia purba (Palaeoanthropologi) di Indonesia, dibagi dalam tiga tahapan, yaitu tahun 1889-1909, tahun 1931-1941, dan tahun 1952-sekarang.

a) Penelitian tahap I pada tahun 1889-1909 dilakukan oleh Dr. Eugene Dubois, yang menduga bahwa manusia purba hidupnya pasti di daerah tropis. Dubois menemu- kan fosil sepotong tulang kobi yang bisa menandakan bahwa pemiliknya berjalan tegak, di Trinil dekatNgawi. Fosil tersebut adalah Pithecanthropus Erectus. Pada masa ini, ditemukan pula fosil manusia Wajak di daerah Kediri Jawa Timur, dan penemuan manusia purba di Kedungtrubus. Seluruh temuan Dubois tentang manusia purba di Indonesia adalah fosil-fosil tengkorak, ruas leher, rahang, gigi, tulang paha, dan tulang kering.

b) Penelitian tahap II antara 1931-1941 dilakukan oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan Von Koeningswald. Mereka menemukan tengkorak dan tulang kering Pithecanthropus Soloensis di Ngandong Kabupaten Blora. Juga tahun 1936 Tjokrohandojo menemukan fosil tengkorak anak-anak di utara Mojokerto. Antara tahun 1936-1941, Von Koeningswald menemukan fosil-fosil rahang, gigi, dan tengkorak di Sangiran Surakarta.

c) Penelitian tahap III, sebagian besar penemuan di Sangiran, yang menemukan bagian-bagian tubuh Pithecanthropus yang belum pernah ditemukan sebelumnya, seperti tulang muka dan dasar tengkorak.

3)   Teknologi
Teknologi pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, hanya mengutamakan segi praktis sesuai dengan tujuan penggunaannya saja, namun lama kelamaan ada penyempurnaan bentuk.
Di Indonesia dikenal dua macam teknik pokok, yaitu teknik pembuatan perkakas batu yang disebut tradisi kapak perimbas dan tradisi serpih. Pada perkem- bangan berikutnya ditemukan alat-alat dari tulang dan tanduk. Movius menggolongkan alat-alat dari batu sebagai perkakas zaman pra aksara, yaitu kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, proto kapak genggam, dan kapak genggam.

4)   Kehidupan sosial
Manusia purba semenjak Pithecanthropus hingga Homo Sapiens dari Wajak, menggantungkan kehidup- annya pada kondisi alam. Daerah sekitar tempat tinggalnya harus dapat memberikan persediaan makanan dan air yang dapat menjamin kelang- sungan hidupnya. Mereka hidup berkelompok dengan pembagian tugas, bahwa yang laki-laki ikut kelompok berburu dan yang perempuan mengumpulkan makanan dari tumbuhan dan hewan-hewan kecil.
Selain itu, mereka juga bekerjasama dalam rangka menanggulangi serangan binatang buas maupun adanya bencana alam yang sewaktu-waktu dapat mengusik kehidupan mereka. Alat-alat yang dibuat dari batu, kayu, tulang, dan tanduk terus-menerus mengalami penyempurnaan bentuk, sesuai dengan perkembangan alam pikiran mereka.

2.    Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, di Indonesia sudah ada usaha-usaha untuk bertempat tinggal secara tidak tetap di gua-gua alam, utamanya di gua-gua payung, yang setiap saat mudah untuk ditinggalkan, jika dianggap sudah tidak memung- kinkan lagi tinggal di tempat itu.

1)   Keadaan lingkungan
Api sudah dikenal sejak sebelumnya, karena sangat bermanfaat untuk berbagai keperluan hidup, seperti untuk memasak makanan, sebagai penghangat tubuh, dan untuk menghalau binatang buas pada malam hari. Terputusnya hubungan kepulauan Indonesia dengan Asia Tenggara pada akhir masa glasial keempat, terputus pula jalan hewan yang semula bergerak leluasa menjadi lebih sempit dan terbatas, dan ter- paksa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tumbuh-tumbuhan yang mula-mula ditanam adalah kacang kacangan, mentimun, umbi-umbian dan biji- bijian, seperti juwawut, padi, dan sebagainya.

2)   Keberadaan manusia
Ada dua ras yang mendiami Indonesia pada permulaan Kala Holosin, yaitu Austromelanesoid dan Mongoloid. Mereka berburu kerbau, rusa, gajah, dan badak, untuk dimakan. Di bagian barat dan utara ada sekelompok populasi dengan ciri-ciri terutama Austromelanesoid dengan hanya sedikit campuran Mongoloid. Sedangkan di Jawa hidup juga kelompok Austromelanesoid yang lebih sedikit lagi dipengaruhi oleh unsur-unsur Mongoloid. Lebih ke timur lagi, yaitu di Nusa Tenggara sekarang, terdapat pula Austromelanesoid.

3)   Teknologi
Ada tiga tradisi pokok pembuatan alat-alat pada masa Pos Plestosin, yaitu tradisi serpih bilah, tradisi alat tulang, dan tradisi kapak genggam Sumatera. Persebaran alatnya meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Alat tulang ditemukan di Tonkin Asia Tenggara, sedangkan di Jawa ditemukan di Gua Lawa Semanding Tuban, di Gua Petpuruh utara Prajekan, dan Sodong Marjan di Besuki. Kapak genggam Sumatera ditemukan di daerah pesisir Sumatera Utara, yaitu di Lhok Seumawe, Binjai, dan Tamiang.

4
) Masyarakat
Manusia yang hidup pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, mendiami gua-gua terbuka atau gua-gua payung yang dekat dengan sumber air atau sungai sebagai sumber makanan, berupa ikan, kerang, siput, dan sebagainya. Mereka membuat lukisan- lukisan di dinding gua, yang menggambarkan kegiatannya, dan juga kepercayaan masyarakat pada saat itu.

3.    Masa Bercocok Tanam
Perubahan dari masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut ke masa bercocok tanam, mema- kan waktu yang sangat panjang, karena tingkat kesulitan yang tinggi. Pada masa ini sudah mulai ada usaha bertempat tinggal menetap di suatu perkampungan yang terdiri atas tempat tinggal-tempat tinggal sederhana yang didiami secara berkelompok. Mulai ada kerjasama dan peningkatan unsur kepercayaan yang diharapkan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ketenteraman hidupnya.

1)   Manusia
Manusia yang hidup pada masa bercocok tanam di Indonesia Barat mendapat pengaruh besar dari ras Mongoloid, sedangkan di Indonesia Timur sampai sekarang lebih dipengaruhi oleh komponen Austro- melanesoid.


2)   Teknologi
Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengasah alat dari batu dan mulai dikenalnya teknologi pembuatan gerabah. Alat yang terbuat dari batu dan biasa diasah adalah beliung, kapak batu, mata anak panah, mata tombak, dan sebagainya. Di antara alat batu yang paling terkenal adalah beliung persegi.

3) Kehidupan masyarakat
Masyarakat mulai meninggalkan cara-cara berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka sudah menunjukkan tanda-tanda akan menetap di suatu tempat, dengan kehidupan baru, yaitu mulai bercocok tanam secara sederhana dan mulai memelihara hewan. Proses perubahan tata kehidupan yang ditandai dengan perubahan cara memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, terjadi secara perlahan-lahan, namun pasti.

Demikian pula dengan tempat tinggal, dari yang masih sangat sederhana berbentuk bulat dengan atap dan dinding dari rumbai, perlahan-lahan berubah sedikit demi sedikit kepada bentuk yang lebih maju dengan daya tampung yang lebih banyak, untuk menampung keluarga mereka. Gotong-royong merupakan suatu kewajiban yang memang diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan tenaga orang banyak, seperti mendirikan rumah dan membersihkan saluran air untuk bercocok tanam. Masyarakat merasa bahwa tanah merupakan kunci dari kehidupan. Oleh karena itu, mereka meningkat- kan manfaat kegunaan tanah, termasuk penguasaan terhadap binatang-binatang peliharaan. Yang jelas mereka sudah tidak lagi tergantung pada alam. Mereka sudah mengadakan perubahan-perubahan dengan menganggap sebagai pemilik atas unsur- unsur yang mengelilinginya.

4
) Pemujaan roh nenek moyang
Pemujaan roh leluhur maupun kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib menjadi adat kebiasaan masyarakat saat itu. Kebiasaan semacam itu lazim disebut animisme dan dinamisme. Sudah mulai ada kepercayaan tentang hidup sesudah mati, bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang meninggal. Upacara pemakaman dilakukan sedemikian rupa agar roh yang meninggal tidak salah jalan menuju nenek moyang mereka.

Tradisi mendirikan bangunan megalitik (batu besar) muncul berdasarkan keper-cayaan adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati. Terutama karena adanya pengaruh yang kuat dari yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman


4.     Masa perundagian
Pada masa bercocok tanam, manusia sudah berusaha bertempat tinggal menetap dengan mengatur kehidupan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, yaitu menghasilkan bahan makanan sendiri, baik di bidang pertanian maupun peternakan. Pada masa perundagian, semuanya mengalami kemajuan dan penyempurnaan. Pada masa ini mulai ditemukan bijih-bijih logam sehingga berbagai peralatan mulai dibuat dari logam.
Pada perkembangan berikutnya, perlu dibedakan golongan yang terampil dalam melakukan jenis usaha tertentu, misalnya terampil dalam membuat rumah kayu, pem- buatan gerabah, pembuatan benda-benda dari logam, perhiasan, dan lain sebagainya.
1)   Penduduk
Manusia yang bertempat tinggal di Indonesia pada masa ini dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, antara lain di Anyer Utara Jawa Barat, Puger Jawa Timur, Gilimanuk Bali, dan Melolo Sumba Timur. Pada masa perundagian ini perkampungan sudah lebih besar, karena adanya hamparan pertanian, dan mereka kemudian mulai mengadakan aktivitas perdagangan.

2)
Teknologi
Pada masa perundagian ini, teknologi berkembang sangat pesat, sebagai akibat adanya penggolongan-penggolongan dalam masyarakat. Dengan beban pekerjaan tertentu, banyak jenis pekerjaan yang mempunyai disiplin tersendiri sehingga semakin beraneka ragam perkembangan teknologi yang terjadi pada masa itu. Termasuk perkembangan perdagangan dan pelayaran. Teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan kebutuhan, nampaknya menyangkut dan melibatkan berbagai bidang yang lain. Saat itu juga sedang berkembang teknologi peleburan, pencampuran, penempaan, dan pencetakan berbagai jenis logam yang dibutuhkan oleh manusia. Di Indonesia, berdasarkan temuan-temuan arkeologis, penggunaan logam sudah dimulai beberapa abad sebelum masehi, yaitu penggunaan perunggu dan besi. Secara berangsur-angsur dan bertahap, penggunaan kapak batu diganti dengan logam. Namun logam tidak mudah menggeser peranan gerabah yang masih tetap bertahan karena memang tidak semuanya dapat digantikan dengan logam.

3) Kehidupan sosial budaya
Seni ukir dan seni hias yang diterapkan pada benda- benda megalitik mengalami kemajuan yang pesat. Sedangkan yang sangat menonjol pada masa perundagian ini adalah kepercayaan kepada arwah nenek moyang, karena dipercaya sangat besar pengaruhnya terhadap perjalanan hidup manusia dan masyarakatnya. Oleh karena itu, arwah nenek moyang harus diperhatikan dan dipuaskan melalui upacara-upacara. Kehidupan dalam masyarakat masa perundagian adalah hidup yang penuh rasa setia kawan. Perasaan solidaritas ini tertanam dalam hati setiap orang sebagai warisan dari nenek moyang .

1.    Identifikasi jenis manusia purba yang ada di Indonesia dengan yang ada di luar negeri !
Jawab :
1.  Jenis Manusia Purba yang ada di Indonesia
Berikut adalah beberapa jenis manusia purba yang fosilnya pernah ditemukan di Indonesia :
a.    Meganthropus paleojavanicus
Meganthropus paleojavanicus berasal dari kata-kata; Megan= besar, Anthropus= manusia, Paleo= tua, Javanicus= dari Jawa. Jadi bisa disimpulkan bahwa Meganthropus paleojavanicus adalah manusia purba bertubuh besar tertua di Jawa. Fosil manusia purba ini ditemukan di daerah Sangiran, Jawa tengah antara tahun 1936-1941 oleh seorang peneliti Belanda bernama Von Koeningswald. Fosil tersebut tidak ditemukan dalam keadaan lengkap, melainkan hanya berupa beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta gigi-gigi yang telah lepas. Fosil yang ditemukan di Sangiran ini diperkirakan telah berumur 1-2 Juta tahun.

Ciri-Ciri Meganthropus paleojavanicus :
·       Mempunyai tonjolan tajam di belakang kepala.
·       Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.
·       Tidak mempunyai dagu, sehingga lebih menyerupai kera.
·       Mempunyai otot kunyah, gigi, dan rahang yang besar dan kuat.
·       Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan.
b.   Pithecanthropus

Fosil manusia purba jenis Pithecanthrophus adalah jenis fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Pithecanthropus sendiri berarti manusia kera yang berjalan tegak. Paling tidak terdapat tiga jenis manusia Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, yaituPithecanthrophus erectus, Pithecanthropus mojokertensis, dan Pithecanthropus soloensis.
Berdasarkan pengukuran umur lapisan tanah, fosil Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia mempunyai umur yang bervariasi, yaitu antara 30.000 sampai 1 juta tahun yang lalu.


Tulang tengkorak Pithecanthropus erectus


Jenis-jenis pithecanthropus :
1.    Pithecanthropus erectus, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di sekitar lembah sungai Bengawan Solo, Trinil, Jawa Tengah. Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang atas, tengkorak, dan tulang kaki.
2.    Pithecanthropus mojokertensis, disebut juga dengan Pithecanthropus robustus. Fosil manusia purba ini ditemukan oleh Von Koeningswald pada tahun 1936 di Mojokerto, Jawa Timur. Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak anak-anak.
3.    Pithecanthropus soloensis, ditemukan di dua tempat terpisah oleh Von Koeningswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran antara tahun 1931-1933. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dan juga tulang kering.
Ciri-ciri Pithecanthropus
·       Memiliki tinggi tubuh antara 165-180 cm.
·       Badan tegap, namun tidak setegap Meganthrophus.
·       Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc.
·       Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
·       Hidung lebar dan tidak berdagu.
·       Mempunyai rahang yang kuat dan geraham yang besar.
·       Makanan berupa tumbuhan dan daging hewan buruan.
c.    Homo

Manusia purba dari genus Homo adalah jenis manusia purba yang berumur paling muda, fosil manusia purba jenis ini diperkirakan berasal dari 15.000-40.000 tahun SM. Dari volume otaknya yang sudah menyerupai manusia modern, dapat diketahui bahwa manusia purba ini sudah merupakan manusia (Homo) dan bukan lagi manusia kera (Pithecanthrupus). Di Indonesia sendiri ditemukan tiga jenis manusia purba dari genus Homo, antara lain Homo soloensis, Homo wajakensis, Homo floresiensis, Homo Mojokertensis,Homo Robustus,Homo Sapiens,Homo Sapiens ada 2 yaitu : Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.
·       Homo soloensis, ditemukan oleh Von  Koeningswald dan Weidenrich antara tahun 1931-1934 disekitar sungai bengawan solo. Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak.
·       Homo wajakensis, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di Wajak, Jawa Timur. Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah, tulang tengkorak, dan beberapa ruas tulang leher.
·       Homo floresiensis, ditemukan saat penggalian di Liang Bua, Flores oleh tim arkeologi gabungan dari Puslitbang Arkeologi Nasional, Indonesia dan University of New England, Australia pada tahun 2003. Saat dilakukan penggalian pada kedalaman lima meter, ditemukan kerangka mirip manusia yang belum membatu (belum menjadi fosil) dengan ukurannya yang sangat kerdil. Manusia kerdil dari Flores ini diperkirakan hidup antara 94.000 dan 13.000 tahun SM. 
·      HomoMojokertensis
  
Kaum Homo Mojokertensis (manusia kera dari Mojokerto)Fosilnya ditemukan di Perning (Mojokerto) Jawa Timur tahun 1936 - 1941.Fosil kaum homo yang ini ditemukan Von Koenigswald..

·      Homo Robustus
  

Arti dari Robustus itu sendiri adalah manusia kera yang besar dan kuat tubuhnya ditemukan tahun 1936 di Sangiran lembah Sungai Bengawan Solo.Fosil kaum homo yang ini ditemukan Von Koenigswald.
·      Homo Sapiens
 
 
      Jenis kaum homo yang ini telah memiliki bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang dan juga memiliki sifat seperti manusia sekarang tetapi masih memiliki Kehidupan yang sangat sederhana, dan tentunya hidup mengembara(nomaden). Jenis Kaum Homo sapiens yang ditemukan di Indonesia ada 2 yaitu:
- homo Soloensis
- homo sapiens wajakensis
·       Homo soloensis
  
Fosil Homo soloensis ditemukan di Ngandong, Blora, di Sangiran dan Sambung Macan, Sragen, oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan Von Koenigswald pada tahun 1931—1933 dari lapisan Pleistosen Atas. Homo Soloensis diperkirakan hidup sekitar 900.000 sampai 300.000 tahun yang lalu. Volume otaknya mencapai 1300 cc. 
Menurut Von Koenigswald makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan Pithecanthropus Erectus. Diperkirakan makhluk ini merupakan evolusi dan Pithecanthropus Mojokertensis. Oleh sebagian ahli, Homo Soloensis digolongkan dengan Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo Sapiens dari Asia, Eropa, dan Afrika berasal dari lapisan Pleistosen Atas.
·       Homo Wajakensis
  
Fosil Homo wajakensis ditemukan oleh Van Riestchoten pada tahun 1889 di desa Wajak, Tulungagung. Fosil ini kemudian diteliti oleh Eugene Dubois. Temuan fosil ini merupakan temuan fosil manusia purba pertama yang dilaporkan berasal dari Indonesia.


Fosil Homo Wajakensis mempunyai tinggi badan sekitar 130—210 cm, dengan berat badan antara 30-150 kg. Volume otaknya mencapai 1300 cc Manusia purba jenis ini hidup antara 40.000 —25.000 tahun yang lalu, pada lapisan Pleistosen Atas. Apabila dibandingkan jenis sebelu mnya, Homo Wajakensis menunjukkan kemajuan. 

Makanannya sudah dimasak walaupun masih sangat sederhana. Tengkorak Homo Wajakensis memiliki banyak persamaan dengan tengkorak penduduk asli Australia, Aborigin. Oleh karena itu, Eugene Dubois menduga bahwa Homo WajakensIs termasuk dalam ras Australoide, bernenek moyang Homo Soloensis dan menurunkan bangsa Aborigin. Fosil Homo Wajakensis juga memiliki kesamaan dengan fosil manusia Niah di Serawak Malaysia, manusia Tabon di Palawan, Filipina, dan fosil-fosil Australoid dari Cina Selatan, dan Australia Selatan.


2.  Jenis Manusia Purba yang ada di Luar Negeri

Fosil manusia purba selain ditemukan di Indonesia, juga ditemukan di tempat-tempat lain yaitu Cina, Afrika, dan Eropa.

Manusia purba di Cina
Manusia purba yang ditemukan di Cina disebut Homo Pekinensis, yang berarti “manusia dari Peking” (sekarang Beijing). Homo Pekinensis ditemukan di Gua Choukoutien sekitar 40 km dari Peking. Fosil ini ditemukan oleh seorang sarjana dari Kanada bernama Devidson Black. Berdasarkan penyelidikan, kerangka jenis manusia purba ini menyerupai kerangka Pithecanthropus Erectus. Oleh karena itu, para ahli menyebutnya juga dengan nama Pithecanthropus Pekinensis atau Sinanthropus Pekinensis yang berarti “manusia kera dari Peking”.

Manusia purba di Afrika
Manusia purba yang ditemukan di afrika disebut Homo Africanus yang berarti “manusia dari Afrika”. Fosilnya ditemukan oleh Reymond Dart. Fosil ini ditemukan di dekat sebuah pertambangan Taung Bostwana, tahun 1924. Setelah direkonstruksi ternyata membentuk kerangka seorang anak yang berusia sekitar 5 sampai 6 tahun. Fosil ini di beri nama Australopithecus Africanus, karena hampir mirip dengan penduduk asli Australia. Selanjutnya, Robert Broom menemukan fosil serupa yang berupa tengkorak orang dewasa di tempat yang sama.

Manusia purba di Eropa
Manusia purba yang ditemukan di Eropa disebut Homo Neandherthalensis. Nama itu mengandung arti “manusia Neanderthal”. Manusia jenis ini ditemukan oleh Rudolf Virchow di lembah Neander, Dusseldorf, Jerman Barat tahun 1856. Selain di Jerman, juga ditemukan di Gua Spy Belgia. Di Prancis ditemukan manusia purba yang disebut Homo Cro Magnon.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa perbedaan antara jenis Pithecanthropus Erectus dengan Homo Sapiens. Kamu dapat melihat perbedaan tersebut antara lain sebagai berikut.
·       Ruang tengkorak Pithecanthropus lebih kecil dibandingkan Homo Sapiens, sehingga volume otaknya juga lebih kecil. Ruang tengkorak Pithecanthropus kurang dari 1000 cc, sedangkan ruang tengkorak Homo Sapiens lebih dari 1000 cc.
·       Tulang kening Pithecanthropus lebih menonjol ke depan.
·       Tulang rahang bawah Pithecanthropus lurus ke depan sehingga tidak berdagu, sedangkan Homo sapiens berdagu.
·       Tulang rahang dan gigi Pithecanthropus lebih besar dan kuat dari pada tulang rahang Homo sapiens.
·       Tinggi dan berat badan Homo Sapiens lebih besar yaitu 130-210 cm dan 30-150 kg.
Berikut adalah jenis manusia purba yang ada di luar negeri :
1. Sinanthropus Pekninensis
Jenis – jenis manusia purba lengkap - berdasarkan penemuanya fosil pithecanthropus pekinensis memiliki persamaan dengan pithecanthropus erectus.Fosil ini ditemukan oleh prof.Davidson black pada tahun 1927 di gua – gua dekat Chou – Kou – Tien, Peking.
2. Homo Africanus ( Homo Rhodesiensis )
Jenis – jenis manusia purba lengkap - Ditemukan oleh Raymond Dart dan Robert brom pada tahun 1924 di goa Broken hill,rhodesia ( zimbabwe )
3. Australopithecus Africanus
Jenis – jenis manusia purba lengkap - Ditemukan oleh Raymond Dart pada tahun 1924 di Taung,dekat Vryburg,Afrika Selatan
4. Homo Heidelbergensis
Jenis – jenis manusia purba lengkap - Ditemukan oleh Dr.Schoetensack di Desa Maurer dekat kota Heidelberg ( jerman )
5. Homo Neanderthalensis
Jenis – jenis manusia purba lengkap - Ditemukan oleh Rudolf Virchow dan Dr.Fulfrott di lembah sungai Neander,dekat Duselldorf,jerman tahun 1956.Ciri -ciri manusia purba ini mendekat ciri homo wajakensis.
6. Homo Cro Magnon ( Ras Cro – Magnon )
Jenis – jenis manusia purba lengkap - Ditemukan oleh Lartet di gua Cro Magnon dekat Lez Eyzies sebelah barat daya PERANCIS tahun 1868.